Nama: nurul mujahidatul
Nim : 07110012
MENGAPA PIRANTI KOGNITIF KETIKA UJIAN TIDAK BOLEH DIGUNAKAN?
Proses belajar membutuhkan keterlibatan banyak pihak, tidak hanya guru, murid tapi juga alat yang mendukung adanya proses belajar itu, selain sarana/ alat juga ada metode yang berperan penting dalam mensukseskan proses belajar
Seperti yang ada didalam bloom’s taksonomi ternyata proses pembelajaran kita masih berada dalam tingkatan yang paling bawah yang masih mengandalkan remembering (daya ingat), padahal kalau kita mau bisa menggunakan tingkat yang paling atas yaitu creating (kreativitas), dengan kreativitas peserta didik lebih dapat lebih merasakan adanya proses pembalajara atau merasakan akan hasilya karena langsung dipraktekkan.
Sebelum mencapai tingkat creating terlebih dahulu peserta didik harus melalui tahapan evaluating, yang disitu berguna mengetahui tingkat kemampuan peserta didik dalam menyerap materi. Anehnya dalam evaluasi yang ada dalam proses pembelajaran pendidikan kita ini tidak banyak yang boleh menggunakan komponen piranti kognitif. Biasanya yang boleh digunakan hanya kertas dan pulpen padahal masih banyak piranti kognitif yang bisa digunakan.
Selama ini proses belajar kita hanya menerapkan sistem hafalan saja, jarang ada yang menerapkan sistem pemahaman kepada siswanya, dalam proses pembelajaran masih diperbolehkan menggunakan piranti kognitif seperti dalam latihan atau pelajaran matematika masih diperbolehkan menggunakan kalkulator, tapi ketika ujian kalkulator tidak diperbolehkan yang diperbolehkan hanya kertas saja, menurut para guru kalau ujian menggunakan kalkulator itu tidak mendidik karena otaknya jadi tidak bekarja.
Padahal dalam ujian masih banyak komponen piranti kognitif yang bisa digunakan yang juga masih mendidik dan otak juga masih berfungsi, seperti ujian yang dimodel dengan TTS (teka –teki silang) bisa mengasah otak peserta didik dan juga menyenagkan pesrta didik dalam ujian. Pada dasarnya piranti kognitif itu bisa mendidik juga dalam umjian tidak semuanya jelek, cobalah kita ubah cara pandang kita tentang sarana dalan ujian, bisa saja kita meninggalkan kertas dan pulpen, tapi akan sulit juga ketika peserta didikitu masih menggunakan daya ingat dalam menerima materi sehinnga ujian nanti akan berusaha mengingat – ingat yang sudah dipelajari, seandainya siswa itu faham maka tidak akan kesulitan dalam menghadapi ujian karena daya ingat seseorang itu ada batasnya.
Piranti kognitif tidak boleh digunakan karena dirasa tidak dapat membuat peserta didik mandiri, merasa ketergantungan dengan alat bantu tersebut sehingga hasil ujianya tidak obyektif dan kemampuan peserta didik tidak dapat diukur dengan benar-benar karena di bantu oleh alat pendukung lainnya. Itulah salah satu alasan mengapa piranti kognitif masih dlarang digunakan dalam ujian.
Antara pulpen dan kertas sangat erat hubunganya dengan daya ingat pesert didik, sebab itulah mengapa yang diperbolehkan dalam ujian hanya kertas dan pulpen, coba saja peserta didik dajarkan pada tingkat kreatifitas maka bisa saja piranti kognitif itu dapat digunakan dalam ujian.
Minggu, 06 Desember 2009
Langganan:
Komentar (Atom)